Kekuatan Toleransi
Dewasa
ini isu tentang agama semakin marak dan mencemaskan. Tidak sedikit yang jadi
berpikir negative terhadap suatu agama atau kepercayaan. Contohnya seperti
kasus pengeboman gereja, bom bali, bahkan dunia politik pun kini seakan-akan
membawa agama untuk mencari suara agar ia memenangi pemilu atau digunakan untuk
menjatuhkan orang lain. Hal ini diakibatkan oleh pandangan yang menganggap
dirinya adalah yang paling benar yang bisa membuat agama menjadi terlihat
menakutkan. Hal ini tentunya bisa menyebabkan perpecahan dalam kehidupan,
terlebih lagi di Indonesia yang terdiri dari berbagai agama dan kepercayaan
tentu sangan berpotensi terjadinya konflik yang merugikan masing-masing pihak,
bahkan bahayanya lagi tidak hanya terjadi kerugian material dan permusuhan,
tapi juga bisa menyebabkan hilangnya nyawa-nyawa orang yang terlibat di
dalamnya.
Setiap
ajaran di agama masing-masing tidak mungkin mengajarkan umatnya untuk menyakiti
dan mengganggu kehidupan orang lain, setiap agama tentunya mengajarkan hal-hal
kebaikan. Namun, ada saja oknum-oknum yang merasa paling benar yang membuat
umatnya memanas terhadap umat agama lainnya .
“Kini Bhinneka tak lagi Tunggal Ika. Karena kisruh Pilkada
Jakarta, toleransi beragama kini tak lagi ada. Semoga lekas sembuh Indonesia.”
– @sagalaedan
“Semoga Pilkada DKI cepat selesai. Rakyat lelah dengan semua
ini. Kami ingin damai, aman dan tentram.” – @LupaIngat9
“Pilkada rasa civil war.” – @ubegebe1
Beberapa ungkapan yang bikin miris di atas dikutip dari
Twitter baru-baru ini.
Memang, menjelang gelaran Pilkada DKI yang rencananya
berlangsung pada Februari 2017, beragam isu dan perdebatan terkait rekam jejak
para pasangan calon kian ramai muncul di tengah interaksi masyarakat
sehari-hari.
Hal itu sebetulnya wajar saja dalam kehidupan demokrasi yang
sehat, apalagi semua relatif punya impian yang sama, yaitu terpilihnya pemimpin
yang mampu mengatasi beragam masalah rakyat.
Persoalannya, saling tarik opini yang terjadi sudah
menyenggol sentimen identitas yang menyangkut keturunan, kesukuan, golongan,
dan agama (SARA).
Sehingga tak jarang kita temukan diskriminasi, pelecehan,
atau sikap intoleran terhadap kelompok tertentu berseliweran di linimasa
Facebook, Twitter, juga grup WhatsApp.
Rekan kerja, teman main, dan saudara seperti terlalu
bersemangat mengungkapkan pendapatnya, sampai membuat beberapa yang
mendengarnya merasa tidak nyaman.
Nah, bagaimana dengan Anda? Apakah termasuk yang aktif
menyampaikan pendapat? Pendengar saja? Atau malah merasa ‘gerah’ dan mulai
merasa malas berinteraksi dengan si penyampai pendapat?
Yang manapun peran Anda, jalani perbedaan dengan tenang,
sabar, dan saling menghormati. Karena pada dasarnya, perilaku intoleransi dan
tidak menghargai keberagaman bukan hal yang wajar mengalir di darah kita
sebagai bangsa.
Indonesia dan keberagaman yang sudah
berlangsung ratusan tahun
Indonesia itu sudah ratusan tahun berdenyut sebagai negeri
yang beragam isinya. Mulai dari pesona alam, adat istiadat, sampai latar
belakang pemikiran dan keyakinan. Benang merahnya adalah toleransi, yang
berlangsung turun-temurun.
Seperti pada era kerajaan Majapahit, saat itu penganut
keyakinan Siwa, Buddha, dan Waisnawa hidup berdampingan dalam damai. Hal ini
termuat dalam kitab Negarakertagama yang menceritakan tentang usaha Raja Hayam
Wuruk menciptakan kerukunan antar umat beragama di wilayah kerajaannya, seperti
memberikan porsi yang sama di pemerintahannya untuk pejabat dengan latar agama
berbeda, sampai menyebarkan prinsip dasar kerajaan, Bhinneka Tunggal Ika Tan
Hana Dharma (berbeda-beda tetapi satu, dan tiada bakti yang tersia-sia.)
Selain itu, Sunan Kudus pernah menyampaikan pesan pada umat
muslim di Jawa agar tidak menyembelih dan mengonsumsi sapi, untuk menghormati
keyakinan umat Hindu yang menganggap sapi sebagai hewan suci. Maka itu, di
Kabupaten Kudus, Jawa Tengah hingga kini, dikenal luas menggunakan daging kerbau atau ayam.
Atau coba lihat makam
kuno Tralaya di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.
Sejumlah batu nisan di sana bertuliskan huruf Jawa Kuno dan Arab berdampingan.
Satu mewakili keyakinan Islam, dan satu lagi erat terhubung dengan agama Hindu.
Sementara di kelenteng
tertua di Semarang, Jawa Tengah, Sam Poo Kong, entah sudah sejak kapan jadi
sentra kegiatan masyarakat dari berbagai latar belakang, mulai dari Tionghoa,
Islam, Buddha, sampai Konghucu. Bahkan saat Ramadhan tiba, selalu ada kegiatan
buka puasa bersama. Masjid Istiqlal yang megah di ibukota pun dirancang oleh
seorang Kristen Protestan, Frederich Silaban.
Semua cerita di atas
hanya sebagian kecil saja dari bukti bahwa Indonesia besar karena keberagaman.
Dan semua ini juga bukan hanya sejarah, tapi hal yang terus berlangsung sampai
detik ini.
Di berbagai daerah di
Indonesia, perbedaan dirayakan dengan hidup berdampingan dalam damai. Dalam
laporan tahunan Kehidupan Keagamaan di Indonesia versi Kementerian Agama RI,
Indonesia tercatat sebagai negara paling toleran sedunia, berdasarkan beberapa
indikator, seperti salah satunya: Kebijakan hari libur nasional dan perayaan hari
besar semua agama.
“Konghucu di Indonesia
hanya berjumlah 4-5 juta, tapi hari rayanya dijadikan libur nasional. Umat
Islam di Prancis dan Jerman mencapai 10 persen, tapi tidak ada perayaan Idul
Fitri atau Idul Adha yang dijadikan hari besar nasional,” ujar Kepala Badan
Litbang dan Diklat Kemenag, Prof. Dr. HM Machasin.
Hal ini juga diakui
oleh pemimpin negara lain, seperti dari negara-negara anggota ASEAN, atau
ketika para pemimpin negara G20 dalam KTT di Turki, 2015 silam, mengakui
kekokohan pluralisme di Indonesia.
Jadi buat apa
terlarut dalam kericuhan yang kemudian membuat kita jadi tidak acuh dengan
indahnya keberagaman di negeri ini?
Kita mungkin saja
sedang menjalani fase pelajaran atau ujian baru, yang belum benar-benar kita
kuasai. Menerima perbedaan dalam diam secara berdampingan memang sudah biasa
kita lakoni sejak dulu, tapi saling menerima perbedaan dalam keterbukaan
mungkin saja masih agak asing buat kita semua. Karena berbeda dalam keterbukaan
kerap memunculkan rasa tidak nyaman yang makin besar.
“Ketidaknyamanan itu
yang potensial menghadirkan sikap intoleran. Padahal dalam toleransi kita mesti
bersedia untuk tidak nyaman.” ujar pakar studi antropologi, yang juga Profesor
Studi Agama Universitas Boston, Amerika Serikat, Adam Seligman dalam sebuah sesi
diskusi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agustus 2016 silam.
“Kelirunya adalah,
ketika merasa tidak nyaman, kita langsung menyimpulkan kalau kelakuan orang itu
salah,” imbuhnya.
Seperti saat ini, semua
orang bebas dan bisa mengungkapkan pendapat dan pemikirannya secara terbuka,
entah secara langsung atau lewat berbagai saluran media sosial. Ketika berbeda,
yang kemudian cenderung terjadi adalah masalah karena merasa tidak cocok.
Padahal, inti dari
toleransi bukan tentang mencari kesamaan dari perbedaan, karena itu sama saja
dengan memisahkan peran seseorang di ruang publik dan privat. Sehingga
seseorang hanya bisa jadi dirinya sendiri di ruang privat, dan semua orang jadi
seragam di ruang publik.
Kalau itu yang terjadi,
toleransi pun tidak berkembang. Semua tampak wajar, sementara keragaman dan
keunikan sebenarnya terpendam, hingga sewaktu-waktu potensial pecah menjadi
konflik.
Maka itu, dengan
pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan interaksi sosial, kita mesti
makin giat belajar menerima perbedaan secara terbuka. Dan akhirnya, kita
bersama bisa menjaga nilai toleransi sebagai dasar kekuatan Indonesia: Bhinneka
Tunggal Ika, atau bersatu dalam perbedaan.
Comments
Post a Comment